Like On Facebook

Tampilkan postingan dengan label Landasan Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Landasan Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 November 2014

Mutu Pendidikan

MUTU PENDIDIKAN


Sekilas Tentang Mutu Pendidikan Indonesia
1.   Mutu pendidikan yang masih rendah
      Penyebab rendahnya kualitas pendidikan ada bermacam-macam yang secara garis besar dapat dirangkum dalam tiga hal yaitu Kurangnya efektifitas dalam penyelenggaraan pendidikan, kurangnya efisiensi dalam pengajaran,  standarisasi yang kurang bermutu, dan Inovasi Pendidikan yang kurang berkembang. Untuk lebih jelasnya dalam dilihat pada uraian berikut ini:
  • Kurangnya efektifitas dalam penyelenggaraan pendidikan
    Dalam kegiatan pendidikan hendaknya diarahkan pada pelaksanaan pendidikan yang efektif dan tepat sasaran. Pendidikan yang efektif bertujuan agar para siswa dapat menerima pelajaran dengan baik. Untuk menciptakan itu, haruslah suatu sekolah atau lembaga mempunyai tenaga pengajar yang baik pula agar dapat memproduksi siswa-siswa yang diinginkan. Dengan tenaga pengajar yang demikian, mereka dapat dituntut untuk meningkatkan keefektifan dalam pembelajaran agar pelajaran tersebut dapat berguna. Faktanya banyak terjadi disekolah-sekolah pelaksanaan pendidikan hanya sebagai formalitas belaka, di sekolah ada sebagian guru yang datang ke sekolah hanya memberikan tugas atau catatan setelah itu meninggalkan kelas tanpa ada penjelasan lagi dari pelajaran tersebut dan ketika bel berbunyi guru baru kembali kekelas hanya untuk mengumpulkan tugas. Banyak waktu untuk kegiatan pembelajaran habis terbuang percuma, karena banyak siswa yang ditinggal guru akan bermain-main atau meninggalkan kelas juga, ini banyak terjadi pada siswa kelas tingkat bawah, sedangkan siswa tingkat atas baru merasakan pembelajaran yang efektif ketika akan menghadapi ujian yang sudah hampir mendekat.
  • Kurangnya efisiensi dalam pengajaran
    Secara mendasar efisiensi dan efektifitas itu saling berhubungan dimana efisiensi itu menghasilkan effektifitas pendidikan. Masalah krusial yang dihadapi Indonesia dalam efisiensi pengajaran adalah mahalnya biaya pendidikan dan menggunakan waktu yang tidak efisien. Jika berbicara tentang mahalnya biaya pendidikan pasti berhubungan dengan dana. Pendidikan itu tidak hanya persoalan memilih tempat untuk sekolah tetapi juga harus memikirkan perlengkapan, ongkos, dsb. Memang sekarang ini biaya pendidikan formal di Indonesia sudah digratiskan sampai jenjang sekolah pertama, tetapi tidak cukup hanya sampai itu saja, karena masih membutuhkan biaya untuk kebutuhan lain seperti membeli buku, seragam, alat tulis dsb. Selain biaya adapun masalah lain yaitu waktu. Persoalan waktu teramat penting seperti selogan "time is money", apabila waktu tidak dipergunakan seefisien mungkin itu akan berakibat fatal seperti kurang efisiennya pendidikan di Indonesia sehingga berpengaruh pada sumber daya manusia yang diinginkan. Permasalahannya disini adalah pendidikan di Indonesia memiliki rentang waktu yang sangat lama dibandingkan negara-negara lain tetapi, hal tersebut tidak efisien, seperti pelaksanaan pada sekolah-sekolah formal, mereka bisa menggunakan waktu hampir 45 jam per minggu atau kegiatan harian yang dimulai dari jam 7.00 sampai dengan 16.00. Sehingga mengakibatkan peserta didik jenuh dan kelelahan dan tidak mempunyai waktu untuk kegiatan pengembangan diri lainnya. Jika mau mencontoh negara-negara yang program pendidikannya sudah baik seperti Finlandia yang hanya mempunyai jam belajar sedikit tetapi menggunakan waktu seefisien mungkin. Di Finlandia hanya menggunakan waktu 30 jam per minggu untuk melakukan pembelajaran di sekolah formal. Efisiensi terlihat dalam kegiatan pembelajaran sekolah Finlandia yang sangat  optimal dalam menggunakan waktu, kegiatan pembelajaran juga didukung dengan ketuntasan belajar yang tinggi. Sekolah di Finlandia tidak ada perbedaan antara sekolah unggulan dengan sekolah biasa, semua siswa ditempatkan di kelas yang sama tanpa melihat perbedaan kemampuan siswa, jika ada siswa yang belum mahir dengan suatu pelajaran, tenaga pengajar atau guru akan menjelaskan sampai semua siswa mengerti.
     
  • Standarisasi yang kurang bermutu
    Standarisasi menjadi patokan utama bagi guru tenaga pengajar untuk mengajarkan siswa tentang materi yang diajarkan. Dengan adanya standarisasi pengajaran biasanya dapat belangsung dengan tertata. Harusnya setiap tahun standarisasi itu semakin membaik, tetapi kenyataannya Indonesia semakin memburuk. Standarisasi yang dilakukan dengan mengadopsi standarisasi negara lain ternyata sangat tidak cocok, banyak faktor penyebabnya, salah satu perbedaan kemampuan dan kemajemukan penduduk Indonesia. Contoh akibat dari standarisasi kurang bermutu adalah dampak buruk berupa masalah pergeseran pendidikan karakter di Indonesia, sekarang siswa diajarkan untuk tidak jujur, misalnya pada kasus-kasus ujian nasional. Banyak sekolah-sekolah yang mengambil langkah-langkah salah untuk memenuhi patokan nilai terendah, hingga harus menggunakan segala cara "contekan' Kunci jawaban" kepada siswa agar mendapatkan nilai baik. Alhasil, cara ini akan membentuk generasi penerus yang malas dan tidak jujur untuk masa depannya.
     
  • Inovasi Pendidikan yang kurang berkembang
    Seharusnya pendidikan kita belajar dari salah satu Iklan kendaraan bermotor "Inovasi tiada henti". Karena selama ini pendidikan kita berkutat pada persoalan sama dengan pemecahan yang terulang-ulang kembali pada cara yang lama tanpa adanya perbaikan dengan inovasi dan ide-ide kreatif terbaru. Misalnya masalah buku paket sekolah selalu terulang-ulang setiap tahunnya, kita terjebak dalam mekanisme keuntungan sesaat dari segelintir pelaku bisnis. Hingga buku siswa yang hari ini dipakai tahun depan tidak bisa diwariskan lagi untuk siswa adik kelasnya, cetak lagi dan duit lagi. Seharusnya karena jaman sudah berkembang maju dengan teknologi Jaring jelajah jember yang tanpa batas ini, mengapa buku tidak kita ganti saja dengan ebook-e-learning dan aplikasi-aplikasi pembelajaran yang dapat diakses melalui media internet dan elektronik lainnya. Mungkin buku-buku boleh dicetak tapi hanya buku-buku penunjang yang sifatnya "abadi", seperti ensiklopedi, kamus, atau buku kumpulan rumus-rumus semua disiplin ilmu.
Penyebab rendahnya kualitas pendidikan ada bermacam-macam yang secara garis besar dapat dirangkum dalam tiga hal yaitu Kurangnya efektifitas dalam penyelenggaraan pendidikan, kurangnya efisiensi dalam pengajaran,  standarisasi yang kurang bermutu, dan Inovasi Pendidikan yang kurang berkembang. Untuk lebih jelasnya dalam dilihat pada uraian berikut ini:

1. Kurangnya efektifitas dalam penyelenggaraan pendidikan 

Dalam kegiatan pendidikan hendaknya diarahkan pada pelaksanaan pendidikan yang efektif dan tepat sasaran. Pendidikan yang efektif bertujuan agar para siswa dapat menerima pelajaran dengan baik. Untuk menciptakan itu, haruslah suatu sekolah atau lembaga mempunyai tenaga pengajar yang baik pula agar dapat memproduksi siswa-siswa yang diinginkan. Dengan tenaga pengajar yang demikian, mereka dapat dituntut untuk meningkatkan keefektifan dalam pembelajaran agar pelajaran tersebut dapat berguna. Faktanya banyak terjadi disekolah-sekolah pelaksanaan pendidikan hanya sebagai formalitas belaka, di sekolah ada sebagian guru yang datang ke sekolah hanya memberikan tugas atau catatan setelah itu meninggalkan kelas tanpa ada penjelasan lagi dari pelajaran tersebut dan ketika bel berbunyi guru baru kembali kekelas hanya untuk mengumpulkan tugas. Banyak waktu untuk kegiatan pembelajaran habis terbuang percuma, karena banyak siswa yang ditinggal guru akan bermain-main atau meninggalkan kelas juga, ini banyak terjadi pada siswa kelas tingkat bawah, sedangkan siswa tingkat atas baru merasakan pembelajaran yang efektif ketika akan menghadapi ujian yang sudah hampir mendekat.


2. Kurangnya efisiensi dalam pengajaran 

Secara mendasar efisiensi dan efektifitas itu saling berhubungan dimana efisiensi itu menghasilkan effektifitas pendidikan. Masalah krusial yang dihadapi Indonesia dalam efisiensi pengajaran adalah mahalnya biaya pendidikan dan menggunakan waktu yang tidak efisien. Jika berbicara tentang mahalnya biaya pendidikan pasti berhubungan dengan dana. Pendidikan itu tidak hanya persoalan memilih tempat untuk sekolah tetapi juga harus memikirkan perlengkapan, ongkos, dsb. Memang sekarang ini biaya pendidikan formal di Indonesia sudah digratiskan sampai jenjang sekolah pertama, tetapi tidak cukup hanya sampai itu saja, karena masih membutuhkan biaya untuk kebutuhan lain seperti membeli buku, seragam, alat tulis dsb. Selain biaya adapun masalah lain yaitu waktu. Persoalan waktu teramat penting seperti selogan "time is money", apabila waktu tidak dipergunakan seefisien mungkin itu akan berakibat fatal seperti kurang efisiennya pendidikan di Indonesia sehingga berpengaruh pada sumber daya manusia yang diinginkan.

Permasalahannya disini adalah pendidikan di Indonesia memiliki rentang waktu yang sangat lama dibandingkan negara-negara lain tetapi, hal tersebut tidak efisien, seperti pelaksanaan pada sekolah-sekolah formal, mereka bisa menggunakan waktu hampir 45 jam per minggu atau kegiatan harian yang dimulai dari jam 7.00 sampai dengan 16.00. Sehingga mengakibatkan peserta didik jenuh dan kelelahan dan tidak mempunyai waktu untuk kegiatan pengembangan diri lainnya. Jika mau mencontoh negara-negara yang program pendidikannya sudah baik seperti Finlandia yang hanya mempunyai jam belajar sedikit tetapi menggunakan waktu seefisien mungkin. Di Finlandia hanya menggunakan waktu 30 jam per minggu untuk melakukan pembelajaran di sekolah formal. Efisiensi terlihat dalam kegiatan pembelajaran sekolah Finlandia yang sangat  optimal dalam menggunakan waktu, kegiatan pembelajaran juga didukung dengan ketuntasan belajar yang tinggi. Sekolah di Finlandia tidak ada perbedaan antara sekolah unggulan dengan sekolah biasa, semua siswa ditempatkan di kelas yang sama tanpa melihat perbedaan kemampuan siswa, jika ada siswa yang belum mahir dengan suatu pelajaran, tenaga pengajar atau guru akan menjelaskan sampai semua siswa mengerti.


3. Standarisasi yang kurang bermutu

Standarisasi menjadi patokan utama bagi guru tenaga pengajar untuk mengajarkan siswa tentang materi yang diajarkan. Dengan adanya standarisasi pengajaran biasanya dapat belangsung dengan tertata. Harusnya setiap tahun standarisasi itu semakin membaik, tetapi kenyataannya Indonesia semakin memburuk. Standarisasi yang dilakukan dengan mengadopsi standarisasi negara lain ternyata sangat tidak cocok, banyak faktor penyebabnya, salah satu perbedaan kemampuan dan kemajemukan penduduk Indonesia. Contoh akibat dari standarisasi kurang bermutu adalah dampak buruk berupa masalah pergeseran pendidikan karakter di Indonesia, sekarang siswa diajarkan untuk tidak jujur, misalnya pada kasus-kasus ujian nasional. Banyak sekolah-sekolah yang mengambil langkah-langkah salah untuk memenuhi patokan nilai terendah, hingga harus menggunakan segala cara "contekan' Kunci jawaban" kepada siswa agar mendapatkan nilai baik. Alhasil, cara ini akan membentuk generasi penerus yang malas dan tidak jujur untuk masa depannya.


4. Inovasi Pendidikan yang kurang berkembang

Seharusnya pendidikan kita belajar dari salah satu Iklan kendaraan bermotor "Inovasi tiada henti". Karena selama ini pendidikan kita berkutat pada persoalan sama dengan pemecahan yang terulang-ulang kembali pada cara yang lama tanpa adanya perbaikan dengan inovasi dan ide-ide kreatif terbaru. Misalnya masalah buku paket sekolah selalu terulang-ulang setiap tahunnya, kita terjebak dalam mekanisme keuntungan sesaat dari segelintir pelaku bisnis. Hingga buku siswa yang hari ini dipakai tahun depan tidak bisa diwariskan lagi untuk siswa adik kelasnya, cetak lagi dan duit lagi. Seharusnya karena jaman sudah berkembang maju dengan teknologi Jaring jelajah jember yang tanpa batas ini, mengapa buku tidak kita ganti saja dengan ebook-e-learning dan aplikasi-aplikasi pembelajaran yang dapat diakses melalui media internet dan elektronik lainnya. Mungkin buku-buku boleh dicetak tapi hanya buku-buku penunjang yang sifatnya "abadi", seperti ensiklopedi, kamus, atau buku kumpulan rumus-rumus semua disiplin ilmu.
- See more at: http://visiuniversal.blogspot.com/2014/02/penyebab-mutu-pendidikan-indonesia.html#sthash.HXtfoavO.dpuf
Penyebab rendahnya kualitas pendidikan ada bermacam-macam yang secara garis besar dapat dirangkum dalam tiga hal yaitu Kurangnya efektifitas dalam penyelenggaraan pendidikan, kurangnya efisiensi dalam pengajaran,  standarisasi yang kurang bermutu, dan Inovasi Pendidikan yang kurang berkembang. Untuk lebih jelasnya dalam dilihat pada uraian berikut ini:

1. Kurangnya efektifitas dalam penyelenggaraan pendidikan 

Dalam kegiatan pendidikan hendaknya diarahkan pada pelaksanaan pendidikan yang efektif dan tepat sasaran. Pendidikan yang efektif bertujuan agar para siswa dapat menerima pelajaran dengan baik. Untuk menciptakan itu, haruslah suatu sekolah atau lembaga mempunyai tenaga pengajar yang baik pula agar dapat memproduksi siswa-siswa yang diinginkan. Dengan tenaga pengajar yang demikian, mereka dapat dituntut untuk meningkatkan keefektifan dalam pembelajaran agar pelajaran tersebut dapat berguna. Faktanya banyak terjadi disekolah-sekolah pelaksanaan pendidikan hanya sebagai formalitas belaka, di sekolah ada sebagian guru yang datang ke sekolah hanya memberikan tugas atau catatan setelah itu meninggalkan kelas tanpa ada penjelasan lagi dari pelajaran tersebut dan ketika bel berbunyi guru baru kembali kekelas hanya untuk mengumpulkan tugas. Banyak waktu untuk kegiatan pembelajaran habis terbuang percuma, karena banyak siswa yang ditinggal guru akan bermain-main atau meninggalkan kelas juga, ini banyak terjadi pada siswa kelas tingkat bawah, sedangkan siswa tingkat atas baru merasakan pembelajaran yang efektif ketika akan menghadapi ujian yang sudah hampir mendekat.


2. Kurangnya efisiensi dalam pengajaran 

Secara mendasar efisiensi dan efektifitas itu saling berhubungan dimana efisiensi itu menghasilkan effektifitas pendidikan. Masalah krusial yang dihadapi Indonesia dalam efisiensi pengajaran adalah mahalnya biaya pendidikan dan menggunakan waktu yang tidak efisien. Jika berbicara tentang mahalnya biaya pendidikan pasti berhubungan dengan dana. Pendidikan itu tidak hanya persoalan memilih tempat untuk sekolah tetapi juga harus memikirkan perlengkapan, ongkos, dsb. Memang sekarang ini biaya pendidikan formal di Indonesia sudah digratiskan sampai jenjang sekolah pertama, tetapi tidak cukup hanya sampai itu saja, karena masih membutuhkan biaya untuk kebutuhan lain seperti membeli buku, seragam, alat tulis dsb. Selain biaya adapun masalah lain yaitu waktu. Persoalan waktu teramat penting seperti selogan "time is money", apabila waktu tidak dipergunakan seefisien mungkin itu akan berakibat fatal seperti kurang efisiennya pendidikan di Indonesia sehingga berpengaruh pada sumber daya manusia yang diinginkan.

Permasalahannya disini adalah pendidikan di Indonesia memiliki rentang waktu yang sangat lama dibandingkan negara-negara lain tetapi, hal tersebut tidak efisien, seperti pelaksanaan pada sekolah-sekolah formal, mereka bisa menggunakan waktu hampir 45 jam per minggu atau kegiatan harian yang dimulai dari jam 7.00 sampai dengan 16.00. Sehingga mengakibatkan peserta didik jenuh dan kelelahan dan tidak mempunyai waktu untuk kegiatan pengembangan diri lainnya. Jika mau mencontoh negara-negara yang program pendidikannya sudah baik seperti Finlandia yang hanya mempunyai jam belajar sedikit tetapi menggunakan waktu seefisien mungkin. Di Finlandia hanya menggunakan waktu 30 jam per minggu untuk melakukan pembelajaran di sekolah formal. Efisiensi terlihat dalam kegiatan pembelajaran sekolah Finlandia yang sangat  optimal dalam menggunakan waktu, kegiatan pembelajaran juga didukung dengan ketuntasan belajar yang tinggi. Sekolah di Finlandia tidak ada perbedaan antara sekolah unggulan dengan sekolah biasa, semua siswa ditempatkan di kelas yang sama tanpa melihat perbedaan kemampuan siswa, jika ada siswa yang belum mahir dengan suatu pelajaran, tenaga pengajar atau guru akan menjelaskan sampai semua siswa mengerti.


3. Standarisasi yang kurang bermutu

Standarisasi menjadi patokan utama bagi guru tenaga pengajar untuk mengajarkan siswa tentang materi yang diajarkan. Dengan adanya standarisasi pengajaran biasanya dapat belangsung dengan tertata. Harusnya setiap tahun standarisasi itu semakin membaik, tetapi kenyataannya Indonesia semakin memburuk. Standarisasi yang dilakukan dengan mengadopsi standarisasi negara lain ternyata sangat tidak cocok, banyak faktor penyebabnya, salah satu perbedaan kemampuan dan kemajemukan penduduk Indonesia. Contoh akibat dari standarisasi kurang bermutu adalah dampak buruk berupa masalah pergeseran pendidikan karakter di Indonesia, sekarang siswa diajarkan untuk tidak jujur, misalnya pada kasus-kasus ujian nasional. Banyak sekolah-sekolah yang mengambil langkah-langkah salah untuk memenuhi patokan nilai terendah, hingga harus menggunakan segala cara "contekan' Kunci jawaban" kepada siswa agar mendapatkan nilai baik. Alhasil, cara ini akan membentuk generasi penerus yang malas dan tidak jujur untuk masa depannya.


4. Inovasi Pendidikan yang kurang berkembang

Seharusnya pendidikan kita belajar dari salah satu Iklan kendaraan bermotor "Inovasi tiada henti". Karena selama ini pendidikan kita berkutat pada persoalan sama dengan pemecahan yang terulang-ulang kembali pada cara yang lama tanpa adanya perbaikan dengan inovasi dan ide-ide kreatif terbaru. Misalnya masalah buku paket sekolah selalu terulang-ulang setiap tahunnya, kita terjebak dalam mekanisme keuntungan sesaat dari segelintir pelaku bisnis. Hingga buku siswa yang hari ini dipakai tahun depan tidak bisa diwariskan lagi untuk siswa adik kelasnya, cetak lagi dan duit lagi. Seharusnya karena jaman sudah berkembang maju dengan teknologi Jaring jelajah jember yang tanpa batas ini, mengapa buku tidak kita ganti saja dengan ebook-e-learning dan aplikasi-aplikasi pembelajaran yang dapat diakses melalui media internet dan elektronik lainnya. Mungkin buku-buku boleh dicetak tapi hanya buku-buku penunjang yang sifatnya "abadi", seperti ensiklopedi, kamus, atau buku kumpulan rumus-rumus semua disiplin ilmu.
- See more at: http://visiuniversal.blogspot.com/2014/02/penyebab-mutu-pendidikan-indonesia.html#sthash.HXtfoavO.dpuf
Penyebab rendahnya kualitas pendidikan ada bermacam-macam yang secara garis besar dapat dirangkum dalam tiga hal yaitu Kurangnya efektifitas dalam penyelenggaraan pendidikan, kurangnya efisiensi dalam pengajaran,  standarisasi yang kurang bermutu, dan Inovasi Pendidikan yang kurang berkembang. Untuk lebih jelasnya dalam dilihat pada uraian berikut ini:

1. Kurangnya efektifitas dalam penyelenggaraan pendidikan 

Dalam kegiatan pendidikan hendaknya diarahkan pada pelaksanaan pendidikan yang efektif dan tepat sasaran. Pendidikan yang efektif bertujuan agar para siswa dapat menerima pelajaran dengan baik. Untuk menciptakan itu, haruslah suatu sekolah atau lembaga mempunyai tenaga pengajar yang baik pula agar dapat memproduksi siswa-siswa yang diinginkan. Dengan tenaga pengajar yang demikian, mereka dapat dituntut untuk meningkatkan keefektifan dalam pembelajaran agar pelajaran tersebut dapat berguna. Faktanya banyak terjadi disekolah-sekolah pelaksanaan pendidikan hanya sebagai formalitas belaka, di sekolah ada sebagian guru yang datang ke sekolah hanya memberikan tugas atau catatan setelah itu meninggalkan kelas tanpa ada penjelasan lagi dari pelajaran tersebut dan ketika bel berbunyi guru baru kembali kekelas hanya untuk mengumpulkan tugas. Banyak waktu untuk kegiatan pembelajaran habis terbuang percuma, karena banyak siswa yang ditinggal guru akan bermain-main atau meninggalkan kelas juga, ini banyak terjadi pada siswa kelas tingkat bawah, sedangkan siswa tingkat atas baru merasakan pembelajaran yang efektif ketika akan menghadapi ujian yang sudah hampir mendekat.


2. Kurangnya efisiensi dalam pengajaran 

Secara mendasar efisiensi dan efektifitas itu saling berhubungan dimana efisiensi itu menghasilkan effektifitas pendidikan. Masalah krusial yang dihadapi Indonesia dalam efisiensi pengajaran adalah mahalnya biaya pendidikan dan menggunakan waktu yang tidak efisien. Jika berbicara tentang mahalnya biaya pendidikan pasti berhubungan dengan dana. Pendidikan itu tidak hanya persoalan memilih tempat untuk sekolah tetapi juga harus memikirkan perlengkapan, ongkos, dsb. Memang sekarang ini biaya pendidikan formal di Indonesia sudah digratiskan sampai jenjang sekolah pertama, tetapi tidak cukup hanya sampai itu saja, karena masih membutuhkan biaya untuk kebutuhan lain seperti membeli buku, seragam, alat tulis dsb. Selain biaya adapun masalah lain yaitu waktu. Persoalan waktu teramat penting seperti selogan "time is money", apabila waktu tidak dipergunakan seefisien mungkin itu akan berakibat fatal seperti kurang efisiennya pendidikan di Indonesia sehingga berpengaruh pada sumber daya manusia yang diinginkan.

Permasalahannya disini adalah pendidikan di Indonesia memiliki rentang waktu yang sangat lama dibandingkan negara-negara lain tetapi, hal tersebut tidak efisien, seperti pelaksanaan pada sekolah-sekolah formal, mereka bisa menggunakan waktu hampir 45 jam per minggu atau kegiatan harian yang dimulai dari jam 7.00 sampai dengan 16.00. Sehingga mengakibatkan peserta didik jenuh dan kelelahan dan tidak mempunyai waktu untuk kegiatan pengembangan diri lainnya. Jika mau mencontoh negara-negara yang program pendidikannya sudah baik seperti Finlandia yang hanya mempunyai jam belajar sedikit tetapi menggunakan waktu seefisien mungkin. Di Finlandia hanya menggunakan waktu 30 jam per minggu untuk melakukan pembelajaran di sekolah formal. Efisiensi terlihat dalam kegiatan pembelajaran sekolah Finlandia yang sangat  optimal dalam menggunakan waktu, kegiatan pembelajaran juga didukung dengan ketuntasan belajar yang tinggi. Sekolah di Finlandia tidak ada perbedaan antara sekolah unggulan dengan sekolah biasa, semua siswa ditempatkan di kelas yang sama tanpa melihat perbedaan kemampuan siswa, jika ada siswa yang belum mahir dengan suatu pelajaran, tenaga pengajar atau guru akan menjelaskan sampai semua siswa mengerti.


3. Standarisasi yang kurang bermutu

Standarisasi menjadi patokan utama bagi guru tenaga pengajar untuk mengajarkan siswa tentang materi yang diajarkan. Dengan adanya standarisasi pengajaran biasanya dapat belangsung dengan tertata. Harusnya setiap tahun standarisasi itu semakin membaik, tetapi kenyataannya Indonesia semakin memburuk. Standarisasi yang dilakukan dengan mengadopsi standarisasi negara lain ternyata sangat tidak cocok, banyak faktor penyebabnya, salah satu perbedaan kemampuan dan kemajemukan penduduk Indonesia. Contoh akibat dari standarisasi kurang bermutu adalah dampak buruk berupa masalah pergeseran pendidikan karakter di Indonesia, sekarang siswa diajarkan untuk tidak jujur, misalnya pada kasus-kasus ujian nasional. Banyak sekolah-sekolah yang mengambil langkah-langkah salah untuk memenuhi patokan nilai terendah, hingga harus menggunakan segala cara "contekan' Kunci jawaban" kepada siswa agar mendapatkan nilai baik. Alhasil, cara ini akan membentuk generasi penerus yang malas dan tidak jujur untuk masa depannya.


4. Inovasi Pendidikan yang kurang berkembang

Seharusnya pendidikan kita belajar dari salah satu Iklan kendaraan bermotor "Inovasi tiada henti". Karena selama ini pendidikan kita berkutat pada persoalan sama dengan pemecahan yang terulang-ulang kembali pada cara yang lama tanpa adanya perbaikan dengan inovasi dan ide-ide kreatif terbaru. Misalnya masalah buku paket sekolah selalu terulang-ulang setiap tahunnya, kita terjebak dalam mekanisme keuntungan sesaat dari segelintir pelaku bisnis. Hingga buku siswa yang hari ini dipakai tahun depan tidak bisa diwariskan lagi untuk siswa adik kelasnya, cetak lagi dan duit lagi. Seharusnya karena jaman sudah berkembang maju dengan teknologi Jaring jelajah jember yang tanpa batas ini, mengapa buku tidak kita ganti saja dengan ebook-e-learning dan aplikasi-aplikasi pembelajaran yang dapat diakses melalui media internet dan elektronik lainnya. Mungkin buku-buku boleh dicetak tapi hanya buku-buku penunjang yang sifatnya "abadi", seperti ensiklopedi, kamus, atau buku kumpulan rumus-rumus semua disiplin ilmu.
- See more at: http://visiuniversal.blogspot.com/2014/02/penyebab-mutu-pendidikan-indonesia.html#sthash.HXtfoavO.dpuf
2.      Sistem pembelajaran di sekolah-sekolah yang belum memadai
3.      Krisis moral yang melanda masyarakat kita
Mengukur Mutu Pendidikan Indonesia
     Untuk mendukung tercapainya Standar Nasional Pendidikan dibentuk badan yang di sebut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). 
BSNP
     BSNP adalah sebuah badan mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan, mengatur, pelaksanaan, dan mengevaluasi Standar Nasional Pendidikan. BSNP beranggotakan  para ahli dari disiplin ilmu yang relefan dan memiliki komitmen untuk peningkatan mutu pendidikan.

Dalam menjalankan tugasnya BSNP mempunyai kewenangan untuk:
  1. Mengembangkan Standar Nasional Pendidikan
  2. Menyelenggarakan ujian nasional
  3. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah dalam penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan
  4.  Merumuskan kriteria lulusan dari satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Berdasarkan ragam dan sasarannya, pencapaian mutu pendidikan dapat dilakukan meliputi tiga cara

A.     Akreditasi
Badan Akreditasi Nasional (BAN) bertugas untuk mengakreditasi atau menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan. Menurut UU RI No.20/2003 pasal 60 ayat 1 dan 3 akreditasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan berdasarkan kriteria yang bersifat terbuka.

Kriteria :
1.       standar isi
2.       standar proses
3.       standar kompetensi lulusan
4.        standar tenaga pendidikan
5.        standart sarana dan prasarana
6.       standar pengelolaan
7.       standar pembiayaan
8.       standar penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala

B.     Sertifikasi
     Sertifikat pendidik adalah suatu pernyataan yang menunjukkan seseorang benar – benar memiliki kualifikasi seorang pendidik  atau guru profesional.

     Pasal 8 UU No.14 Tahun 2005 tentang Karakteristik Guru Profesional dinyatakan;
“guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidikan, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”

C.     Penjaminan Mutu
     Penjaminan mutu yaitu mengedepankan peningkatan kualitas managemen dan lulusannya. Ruang lingkup penjaminan mutu antara lain: menetapkan standar, melaksanakan standar, mengevaluasi pelaksanaan standar, dan berupaya meningkatkan standar(ISO,SPMPT Dirjen Dikti)


     Siklus penjaminan mutu dari ISO yaitu:
1.        Plan(perencanaan):
               menetapkan sasaran mutu yang diterjemahkan dari kebijakan mutu organisasi
2.       Do(pelaksanaan):
               menerapkan prosedur
3.       Check(pemeriksaan):
memantau dan mengukur proses dan produk yang berlawanan dengan kebijakan,sasaran dan persyaratan produk dan melaporkan hasil(audit)
4.       Act(tindakan):
mengambil tindakan untuk peningkatan berkelanjutan kinerja proses.


Masalah Pendidikan


Masalah-masalah pokok pendidikan
  1. Masalah pemerataan pendidikan
    merupakan persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas – luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh  pendidikan sehingga pendidikan menjadi wahana bagi pembangunan SDM untuk menunjang pembangunan. masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapt ditampung di dalam sistem pendidikan 
  2. Masalah mutu pendidikan
    Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang  diharapkan. Mutu pendidikan dilihat dari kualitas keluaran (0ut put) 
  3. Masalah efesiensi pendidikan
    Mempersolkan bagaimana suatu sistem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Sumber masalahnya antara lain: bagaimana tenaga kependidikan difungsikan, bagaimana sarana dan prasarana pendidikan digunakan,masalah efesiensi dalam memfungsikan tenaga serta bagaimana pendidikan diselenggarakan.
  4. Masalah relevansi Pendidikan
    Mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
 Cara penanggulangan

       1. Masalah pemerataan pendidikan dengan cara:
  • Cara konvensional (membangun gedung sekolah , menggunakan gedung sekkolah double shif atau bergantian  pagi dan sore)
  • Cara inovatif (sistem pamong yaitu pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru, SD kecil pada daerah terpencil, sistem guru kunjung, SMP Terbuka, Kejar paket A dan B, belajar jarak jauh)
       2.   Masalah mutu pendidikan
  • Seleksi lebih rasional terhadap masukan mentah khususnya SLTA dan PT 
  •  Pemgembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut (pelatihan, penataran, seminar dll)
  • Penyempurnaan kurikulum 
  • Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tentram untk belajar
  • Penyempurnaan sarana belajar (buku paket, media pembelajaran, peralatan laboratorium) 
  • Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran
  • Kegiatan pengendalian mutu(monev,sistem ujian, laporan penyelenggaraan pendidikan,dll)

Pendidikan dan Nasionalisme


PENDIDIKAN DAN NASIONALISME



     Pada bab ini ditujukan untuk memperoleh sebuah rumusan alternatif upaya pemecahan masalah yang dapat dilakukan demi meningkatkan  nasionalisme terkait dengan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya bidang pendidikan.

A. Tantangan Pendidikan Nasional
     Berdasarkan UU No.20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, bahwa  pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasar pada Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, budaya bangsa Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan zaman.
     Pendidikan diharapkan berfungsi bisa mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsayang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertagwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negarayang demokratis.
     Untuk mencapai tujuan pendidikan pemerintah harus membangun suatu sistem pendidikan yang disebut Sistem Pendidikan Nasional sebagai keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu.
     Namun yang terjadi di lapangan tidaklah mudah yang seperti  tertulis di atas kertas. Banyaknya kebingungan masyarakat dengan berubahnya sistem yang tidak menentu, berkembangnya ilmu pengetahuan, dan teknologi yang seharusnya  dapat dinikmati bangsa Indonesia. Tetapi seiring dengan hal tersebut masih banyak kesengsaraan yang dirasakan oleh masyarakat dari berbagai bidang, yang lebih memprihatinkan adalah krisis moral yang saat ini dirasakan oleh bangsa Indonesia. Hal tersebut sebenarnya disebabkan oleh ketidak siapan bangsa Indonesia menerima keberagaman atau masuknya dan berkembangnya teknologi.
     Berdasarkan kondisi itu di harapkan adanya suatu upaya yang sistematis yang mampu mengubah paradigma seluruh  unsur dan tatanan dalam masyarakat maupunpemerintah bahwa segala perbedaan dan perkembangan merupakan kekayaan bukan suatu permasalahan.
 B. Pemahaman Multikultural
     Multikultural adalah beraneka ragam kebudayaan.
     Parsudi Suparlan (2002) : akar kata dari multikultural adalah kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia.
C. Multikulturalisme
     Apabila dikaitkan dengan pendidikan mutikultural, multikulturalisme merupakan strategi pendidikan yangmemanfaatkan keragaman latar kebudayaan dari peserta didik sebagai salah satu kekuatan untuk membentuk sikap multikultural.
     Kamarudin Hidayat (2004) menyampaikan setidaknya ada lima hal yang perlu diperhatikan agar sikap bijak terkait pemahaman itu bisa dicapai.
     Menurut Malik Fajar (2004) pendidikan multikulturalisme perlu di tumbuhkembangkan karena potensi yang dimiliki bangsa Indonesia secara kultural, tradisi, dan lingkungan geografi, serta demografis sangat beragam. Penanaman pemahaman multikultural sebaiknya dilaksanakan sedini mungkin sehingga terus akan terkonstruksi dalam kognisi anak rasa kepemilikan dan kebanggaan akan budaya bangsa hingga ia dewasa nanti.

Sikap Bijak Untuk Mencapai Pemahaman Multikulturalisme:
  1. Secara teologis-fisiologis diperlukan kesadaran dan keyakinan bahwa setiap individu dan kelompok etnis itu unik. Dalam keunikannya masing-masing memiliki kebaikan secara universal yang terdapat dalam budaya, bahasa, dan agama yang beragam dan bersifat lokal.
  2. Setiap orang secara psikologis memerlukan pengkondisian agar mempunyai sikap kebersamaan dan positiv terhadap orang lain. Melalui contoh yang keseharian oleh orang tua, guru, dan pemuka agama. .
  3. Rancangan kurikulum yang pendidikan dan kultur sekolah harus dirancang sedemikian rupa, sehingga siswa mengalami secara langsung makna multikultural dengan panduan guru yang siap dan matang.
  4. Mencari persamaan dari nilai-nilai secara universal dari keragaman budaya dan agama yang ada sehingga aspek-aspek yang sensitif dan mudah menimbulkan konflik tidak menjadi isu  yang dominan.
  5. Dengan metode yang kreatif dan inovatif hendaknya nilai-nilai luhur Pancasila disegarkan kembali dan ditanamkan kepada masyarakat serta peserta didik agar kecintaan, dan pendirian bangsa dan negara semakin kuat.
Jika kelima hal tersebut dilaksanakan dengan baik maka pendidikan multikultural yang intens diselenggarakan akan berubah menjadi kepemilikan  multikulturalisme. Multikulturalisme yang sudah mengakar akan menjadi ideologi di kalangan masyarakat yang memiliki keberagaman agama, bahasa, dan budaya yang teraplikasikan perilaku hidup setiap hari. 

D. Pendidikan Toleransi Sebagai Wahana Rekonsoliasi Sosial
     Masa orde baru muncul adanya bentuk-bentuk keseragaman, maka melalui pendidikan toleransi peserta didik diajak menghayati suasana kebhinekaan, sehingga suasana inklusif ,dan komunikatif akan terasa.
    
Melalui pendidikan yang toleran, situasi yang tegang dan penuh konflik akan diarahkan pada sikap empatik dan inkllusif terhadap pluraliras yang menjunjung tinggi integrasi dan rekonsiliasi sosial ( tindakan untuk memulihkan kondisi semula), mempersempit masalah yang dirasakan oleh bangsa kita.

E. Sekolah Berorientasi Multikultural
      Kamarudin (2004) mengjukan prinsip yang harus dipahami guru untuk mengarahkan sekolah dengan kultur yang berorientasi multikultural, sebagai berikut:
  1. Setiap anak adalah istimewa
    Anak terlahir dengan keunikan masing-masing, maka anak harus diterima apa adanya.
  2. Pendekatan  multi-Intelligences
    Sekolah yang ideal adalah sekolah yang mendukung  multi-Intelligences  peserta didik.
  3. Active Learning
    peserta didik dikondisikan untuk aktif dan bebas mengemukakan pikiran dan imajinasinya. Sebagai fasilitator dan pendidik guru senantiasa memberikan rambu-rambu, motivasi, dan koreksi dengan semangat edukasi dan apresiasi. Jika hal tersebut dilakukan maka dalam bersosialisasi peserta didik akan bersikap tanpa harus menyakiti dan agresif terhadap orang lain, sehingga pluralitas pemahaman, gagasan, dan pilihan hidup akan dilihat sebagai sesuatu yang wajar dan akan nampak dinamika yang indah.
  4. Universalitas Agama
    Keragaman agama hendaknya didekati dengan:
a.    Agama diposisikan sebagai fenomena sosial dan budaya  yang perlu diketahui siswa.
b.    Diperkenalkan universalitas agama, bahkan semua agama memiliki kesamaan dalam ajaran moral.
          
           
Di balik keragaman tradisi dan simbol-simbol yang khas, semua agama mengajarkan
            pemeluknya untuk cinta damai, menolong sesama, dan membenci kejahatan.
          5.  Semangat Kemanusiaan dan Keindonesiaan
        
Dengan membiasakan memahami dan menghayati nilai-nilai kemanusiaan serta cinta  
               bangsa melalui kebiasaan untuk menghormati orang lain (respect others), percaya diri 
               (self confident),  perdamaian (peace), ingin tahu (curiousity), pengalaman (empathy),  
               Creative, jujur( honest), cinta dan beberapa nilai yang secara sadar dan terprogram 
               dipraktikkan di kelas dan di lingkungan sekolah maka sengat kemanusiaan dan 
               keindonesiaan bisa terwujud

     Berdasarkan pembahasan yang sudah disampaikan maka yang terpenting dalam penerapan atau aplikasi disekolah hendaknya sekolah bisa membangun kultur yang membangun kesadaran anak untuk memiliki sikap yang empati dan bisa membantu saudara-saudaranya yang terpinggirkan, mengingat realitas masyarakat Indonesia yang multikultural.